Mengenal Sistem Pencernaan Pada Hewan Ternak

Produksi ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain genotipe yang sesuai dengan sistem produksi, kondisi iklim dan lingkungan yang berlaku di suatu daerah tertentu. ketersediaan dan kualitas pakan serta adanya penyakit. Faktor pakan mempakan hal yang menjadi perhatian utama dalam pemeliharaan ternak untuk menunjang kehidupan ternak tersebut. Cukup banyak bahan-bahan pakan di sekitar kita yang potensial dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Kekurangtahuan peternak terhadap macam bahan pakan yang dapat digunakan sebagai bahan pakan ternak merupakan salah satu kendala dalam pengembangan usaha peternakan.

Di Indonesia terdapat banyak jumlah dan variasi bahan baku pakan. Bahan pakan tersebut mempunyai kandungan nutrien dan deskripsi tertentu. Tidak setiap bahan pakan mengandung nutrien yang serba cukup dan lengkap, ada yang mengandung banyak karbohidrat (sumber energi), tetapi mengandung sedikit protein. Sebaliknya ada yang mengandung banyak protein (sumber protein), tetapi sedikit mengandung karbohidrat. Begitu juga ada bahan pakan yang mengandung banyak mineral (sumber mineral) atau vitamin (sumber vitamin). Oleh karena itu, untuk mendapatkan pakan yang serasi dan cukup mengandung nutrien sesuai dengan kebutuhan ternak tertentu, perlu disusun atau dicampur beberapa macam bahan baku pakan. Pengenalan dan pengawasan kualitas bahan baku pakan maupun pakan sangat diperlukan oleh para praktisi yang berkecimpung dalam bidang peternakan pada umumnya dan ilmu makanan ternak pada khususnya.

Mengenal Bahan Pakan Ternak

Bagiamana cara berternak hewan yang bisa di gunakan untuk perdagangan ? Dalam artikel ini akan dibahas secara menyeluruh tentang berbagai macam bahan pakan untuk ternak, meliputi bahan pakan sumber serat, sumber energi, sumber protein, sumber mineral, dan aditif. Semoga pembahasan tentang macam bahan pakan dapat bermanfaat untuk semua pihak. Selain itu, pengenalan sistem pencernaan, formulasi, dan teknik produksi pakan juga dibahas secara ringkas untuk memberikan bekal kepada para pembaca untuk lebih memahami ilmu dan teknik produksi pakan.

Sistem Pencernaan makanan pada hewan

  1. Sistem Pencernaan pada Nonruminansia

Ternak nonruminansia disebut juga ternak yang mempunyai lambung sederhana atau monogastrik, contohnya adalah unggas, tikus, anjing, kucing, dan babi. Bagan atau gambar dari alat penoemaan dari ternak unggas seperti tercantum pada gambar berikut:

Sistem Pencernaan Pada Hewan Ternak

Proses utama dari pencernaan meliputi proses secara mekanik, enzimatik, dan mikrobial. Proses mekanik terdiri dari mastikasi atau pengunyahan makanan dalam mulut dan gerakan-gerakan saluran pencernaan yang dihasilkan oleh kontraksi otot sepanjang usus. Pencernaan secara enzimatik atau kimiawi dilakukan oleh enzim yang dihasilkan oleh sel-sel dalam tubuh ternak dan juga getah pencemaan. Mikroorganisme yang hidup dalam beberapa saluran pencernaan pada ternak nonruminansia kurang begitu penting, sedangkan pada ternak ruminansia mikroorganisme ini sangat penting keberadaannya. Pencernaan oleh mikroorganisme ini juga dilakukan oleh sel-sel mikroorganisme. Tempat utama terjadinya pencernaan mikrobial ini adalah pada usus halus.

Saluran pencernaan dari semua ternak dapat dianggap sebagai tabung yang dimulai dari mulut sampai anus dan berfungsi mencerna dan mengabsorbsi makanan serta mengeluarkan sisa makanan sebagai tinja. Bagian-bagian penting dari alat pencernaan adalah mulut, faring, esofagus, Iambung, usus halus, dan usus besar.

Sistem pencernaan unggas berbeda dari sistem pencernaan mamalia, karena unggas tidak mempunyai gigi untuk memecah makanan secara fisik. Lambung kelenjar (khemis) pada unggas disebut proventrikulus. Antara proventrikulus dan mulut terdapat pelebaran kerongkongan yang disebut tembolok. Makanan disimpan untuk sementara waktu dalam tembolok, kemudian makanan tersebut dilunakkan sebelum menuju ke proventrikuius. Makanan kemudian secara cepat melalui proventrikuius ke ventrikulus (empedal). Fungsi utama empedal adalah untuk menghancurkan dan menggiling makanan kasar. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas.

Dari empedal, makanan bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas menghasilkan getah pankreas dalamjumlah banyak yang mengandung enzim-enzim arniiolitik, lipolitik, dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisis pati, Iemak, proteosa. dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilasejuga memasuki duodenum. Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin (enzim proteolitik) dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein dan menghasilkan asam-asam amino dan enzim yang memecah gula mengubah disakarida ke dalam gula-gula sederhana (monosakarida) yang kemudian dapat diasimiiasi oleh tubuh. Penyerapan nutrien dilakukan melalui villi usus halus.

Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir kedalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat pada kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mamalia kebanyakan adalah urea. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas menyebabkan proses pencernaan berlangsung relatif cepat (± 4 jam).

Mengenal sistem Pencernaan Hewan Ternak Pada Ruminansia

Sistem Pencernaan pada Ruminansia

Ternak ruminansia berbeda dengan ternak mamalia lain karena mempunyai Iambung yang sebenar-benarnya, yaitu abomasum dan Iambung muka yang membesar yang mempunyai tiga ruangan, yaitu rumen, retikulum, dan omasum. Padaternak ruminansia muda, rumen dan retikulumnya masih kecil dan belum berkembang. Bila ternak tersebut mulai makan makanan padat, terutama hijauan, bagian retikulo-rumen mulai membesar dengan cepat, sehingga ukuran daya tampung isi makanan mencapai 60-65% dari seluruh saluran pencernaan ukuran relatif. Gambar skematis saluran pencernaan ternak ruminansia (sapi kerbau, kambing, dan domba) tertera pada gambar berikut.

Sistem Pencernaan Ruminansia

Ternak akan mengunyah makanannya dan mencampurnya dengan sejumlah air Iiur, sebelum ditelan masuk ke dalam ruang retikulo-rumen. Cairan retikuo-rumen mengandung 85% air. Retikulo-rumen terdiri atas 2 bagian, bagian bawah adalah cair dan mengandung makanan dalam bentuk suspensi, sedangkan bagian atas lebih kering dan terdiri atas makanan kasar dan padat seperti hijauan (rumput-rumputan). Isi retikulo-rumen dicampuraduk dengan kontraksi berirama yang terus-menerus dari otot-otot dinding retikulo-rumen tersebut. Kemampuan Iain dari ternak ruminansia adalah mengembalikan makanan dari retikulo-rumen ke mulut (regurgitasi) untuk dimamah atau dikunyah kembali. Oleh proses yang disebut ruminasi, bagian-bagian makanan dari ruang depan (anterior) rumen ditarik kembali ke esofagus dan mulut, karena adanya daya vakum atau hampa udara. Bagian makanan yang bersifat cair segera ditelan lagi, sedangkan bagian-bagian kasar (bolus) dikunyah ulang sebelum dimasukkan kembali ke dalam rumen.

Mengenal sistem pencernaan Pada Sapi

Cairan retikulo-rumen mengandung bakteri dan protozoa dengan konsentrasi bakteri kira-kira1O pangkat 9 tiap cc isi rumen, sedangkan jumlah protozoa bervariasi kira-kira 10 pangkat 5 sampai 10 pangkat 6 setiap cc. Protozoa terdapat dalam jumlah sedikit, namun ukurannya lebih besar dibandingkan bakteri. Umumnya, protozoa memakan bakteri dan dapat menggunakan karbohidrat sederhana dan kompleks. Untuk informasi lebih lanjut tetang bagaimana cara membuat pakan ternak pada hewan silakan baca artikelnya ke sini

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terima Kasih atas kunjungan Anda.Ini adalah website review untuk jualan sapi atau jual sapi online ,jual kambing dan hal hal yang berhungan dengan usaha peternakan hewan
error: Content is protected !!